Aku hanya bingung menghadapi detak jantung setiap kali kau menyapa dengan alis mengangkat.
Comments

hm apa ya judulnya ?

Percayalah aku kuat. Aku hebat. Aku tak menangis ketika anak lain menangis karena disuntik. Aku tidak menangis ketika anak lain menangis merengek Barbie cantik. Aku tetap diam meski anak lain memeluk ibunya karna badai mengetuk keras jendela mereka. Aku terdiam melihat petir besar menggelegar. Aku lebih senang jika petir itu mendekatiku sebenarnya. Aku lebih senang ketika hantu-hantu benar-benar bisa membunuh dengan cepat. Aku kuat, tidak seperti anak perempuan lain yang menangis minta permen manis, aku akan merengek meminta permen pahit. Tak perlu ada yang melindungiku. Aku penuh perlindungan. Takkan ada yang menyakitiku. Aku baik saja. Tapi tidak di keramaian. Keramaian membuatku pusing. Keramaian membuatku kosong. Membuat perbedaan signifikan antara situasi dan aku. Membuat tujuanku hilang. Membuat aku mual. Aku lebih suka berjalan dalam sepi dan gelap. Mendengarkan lagu kesukaan. Percayalah aku kuat. Aku kuat ketika kamu berjalan bahagia dengan perempuan yang sepadan denganmu. Ketika kue yang ia buat kamu makan dengan lahap. Ketika cintanya kamu terima hanya dalam waktu beberapa bulan. Bukan tahun sepertiku. Aku tak apa. Aku tipikal wanita beradab. Bukan tipikal wanita pesolek yang menginginkan ada pria peretas sepinya. Membuat mata mereka tertuju pada satu hal. Aku baik saja sendirian. Aku senang saja dalam gelap. Aku senang malam. Aku senang sepi. Aku biarkan sendiri. Berdiam di sudut. Berkutat dan berjalan memutar dalam otak. Aku tak suka kejahatan, tapi tak percaya kebaikan.

bandung, 28 november 16.00

Comments

apa ya ?

Perasaan hatimu berubah lagi. Badai dingin kembali lagi. Perjuanganku kini mulai lagi. Tak peduli aku dengan sikapmu. Tak mengapa kau seperti ini. Tapi ini mulai membuatku muak. Masa penantianku bukan sebulan-dua bulan. Bukan setahun, dua tahun. Aku terlalu lama menatapmu. Terlampau lama hingga mata dan kepalaku pegal. Kau mungkin berpikir aku pelacur busuk penggoda. Tak peduli aku dengan ucapmu. Kini giliran perasaanku melepaskan diri dari kerendahan hati. Mungkin terdengar licik dan hipokrat. Bukan bencimu yang aku mau. Bukan sepimu saja yang aku tunggu. Berkali-kali kubiarkan kau berlalu. Sementara kau menapaki jalanmu, menjelajah hatimu. Aku diam. Diam. Diam. Diam. Aku diam mendengar. Aku diam melihat. Aku diam saat kau tertawa puas dengan cinta. Bagiku itu busuknya cinta. Kau terlalu banyak membaca novel roman. Novel cinta manis dan seakan menunjukkan kebersihan dan kejernihan cinta. Itu cinta roman. Bukan cinta nyata. Cinta nyata untukku tak ada. cinta itu hanya hasrat terpendam manusia. Untukku cinta itu intrik dan licik. Untukku cinta itu tidak berharga. Membuang hati, bukan menyenangkan hati. Membuat hati dan jantungku ingin kukoyak keluar agar tidak lagi berdetak saat kau ada. Membuatku ingin merobek vagina sebelum cinta merobeknya. Membuatku ingin mengubur perasaan sebelum ada yang melubanginya.  Membuatku menolak cahaya. Tapi keberadaanmu tak bisa kugoyah.  Aku sial, benar-benar sial. Aku benci melihat kenyataan aku mencarimu dan berusaha menghubungimu. Aku benci menganalisis hubungan kita untuk mencari tahu tanda dan artinya. Aku benci ketika melihat kenyataan kau ternyata terlalu jauh.  Aku benci ketika kau diam. Dan aku tak sabar ingin memeluk punggungmu dari belakang. Sumpah, aku benci semua itu. aku ternyata membencimu ya ? aku ternyata menderita karena dirimu. Aku ternyata tidak ingin kan kamu ya ? aku tak mau ini berakhir. Karena jika kau tegaskan sesuatu aku tak tahu apa yan terjadi padaku. Tidak, terlalu cengeng katanya bila kita membuat luka karena orang yang sepertimu. Kamu tidak seberharga mereka para hipokrit pembuat lukaku. Tapi aku tak mau ada wormhole dalam diriku. Aku sudah terlanjur terhisap, jika kau buat wormhole itu melebar, aku akan menghilang. Benar-benar menghilang. Ketidakseimbangan sudah membuatku sakit kepala. Kau mau aku minum paramex sebanyak mungkin agar pusingnya hilang ? aku tak suka paramex. Mungkin sedikit gurat-gurat yang mengitam dan menggatal dan sebagian memerah. Melihat kebesaran Tuhan ketika aku melukai-Nya.membiarkan benang fibra menutupi semuanya dengan rapi. Membiarkan darah berhenti mengalir. Berubah warna menjadi merah marun. Tapi aku kuat, sungguh. Biar saja badaimu datang. Aku akan menunggu. Mungkin menunggu membuat wormhole tetap berukuran sama. Mungkin juga membiarkan kepala sakit tanpa paramex. Mungkin membuat darah terus merah marun. Mungkin membuat benang fibra tidak harus terus-menerus berproduksi. Hanya tak tahan. Aku harus kembali ke air. Mendinginkan tubuh. Membuat tubuhku dingin sebelum badaimu membuatku kedinginan. Agar aku biasa merasa hangat ketika badaimu datang. Tak apa. Tak apa. Tak apa.

Bandung, 28 november 16.20

Comments

Orang berkepala barcode

Ada sebuah tempat dimana barcode besar dipasang di tiap kepala. Harga dicantumkan besar-besar untuk harga diri. Bukan pelacur saja yang menjual harga dirinya. Bahkan mungkin pelacur lebih baik daripada orang berkepala barcode ini. Seorang pelacur menjual harga dirinya untuk dirinya sendiri. Tapi orang-orang ini menjual harga diri dirinya dan klannya. Tak peduli apapun hanya besarnya dan banyaknya angka nol yang terpapar di secarik kertas kecil. Mereka bermain dengan angka, kertas dan wanita. Berkat barcode yang terpampang membuat mereka dapat kenikmatan surga di dunia. Surga hasil penjualan harga dirinya dan kehancuran dunianya dan dunia yang lain. Keesokan paginya ia kembali duduk. Terus duduk. Terus tidur akibat malam tadi lelah tertawa. Tertawa akan keberhasilannya memasang harga. Kembali lagi mereka duduk. Tak henti mereka duduk, tapi mereka tak dapat wasir, kadang, hanya darah tinggi, jantung, dan kolestrol penyakit-penyakitnya. Banyak orang menyebut mereka bajingan, atau apapun, tapi tidak mempengaruhi mereka, malah mereka semakin ingin menghancurkan semuanya. Peduli setan, katanya. Esoknya mereka kembali duduk, dan seringkali tertidur di kala poin dan inti pertunjukkan dimulai. Lalu esoknya, esoknya lagi mereka hanya tertidur. Namun kadang mereka senang membuat panggung semakin ramai akan aksi yang menantang urat dan mengeluarkan otot mereka yang lama tertidur. Perilaku mereka membuat yang lain kecewa, tapi mau tak mau yang lain harus memilih orang yang sama, karena tak ada yang lebih baik. Bajingan barcode dengan ide bajingan barunya atau bajingan lama dengan barcode mengikuti jaman dan idenya yang lama. Mau tak mau harus memilih, katanya. Demokrasi, pekiknya. Terkutuk, jerit yang lainnya.

Tak ada yang tahu pasti apa yang mereka lakukan selama diam di kursi besar berbantal tebal. Kursi ‘anti wasir’ yang mereka beli dengan mudah tanpa perlu memikirkan harga. Selalu ada uang, perut selalu besar, asal hidup, diam tak banyak ide idealis maka tak ada yang mereka lakukan. Tujuan hanyalah semangat awal. Satu minggu pertama. Tidak untuk minggu-minggu berikutnya. Mereka bicarakan hal berat tentang demokrasi, orasi,  berbau-bau ayat dan pasal yang bahkan mereka juga tidak mengerti maknanya. Mereka khianati maknanya.

Terdengar sayup-sayup lagu yang mencerminkan betapa bangga kita bebas dari perbudakan selama berabad-abad. Tapi sayup itu hanya ilusi. Perbudakan terjadi untuk abad-abad selanjutnya. Perbudakan yang dianggap pantas, dan hebat. Mereka orang berkepala barcode tidak menuntut maju, hanya menuntut jumlah nol yang pantas. Berhipokrat, saling tuduh agar perut semakin besar. Bersarung tinju tak terlihat. Menyusun rencana di balik rencana. Saling meludah di belakang. Saling memutar harga, memasang taruhan, tak ubahnya bajingan jalanan. Tapi mereka adalah bajingan berdasi dan berpakaian perlente mahal hasil penjualan tak terlihat. Bukan bajingan jalanan yang lusuh, kumal, bau alkohol, tidak pintar menyembunyikan penampilan. Tapi lain dengan orang berkepala barcode ini. Mereka terlampau pintar. Hanya ular yang bisa menyaingi otak licinnya. Bukan demi yang lain, bukan demi harga diri, tapi demi hedonis. Semua terasa artifisial. Dan tidak penting lagi.

Tak ada lagi tiang kepercayaan. Runtuh dengan sendirinya. Sekarang dunia tinggal dipegang kebohongan akan wujud tiang yang diharapkan. Pondasi sulit terbentuk karena saling tuduh. Klan akan segera terhapus, mengulang peradaban, mengulang perbudakan. Hebatnya orang berkepala barcode.

Bandung,28 november 2009. 2 pm

Comments

terlampau sering

sering kita lupa akan Tuhan. iya kan ?

sering kita hiraukan keberadaan-nya. iya kan ?

sering kita cemooh karya-Nya. iya kan ?

sering kita rusak ciptaan-Nya. iya kan ?

sering kita hindari Dia. iya kan ?

sering kita salah artikan maksudnya. iya kan ?

sering kita bohongi Dia. iya kan ?

sering kita lupa bahwa satu tarikan napas adalah murah-Nya

sering kita hiraukan bahwa senyum yang kita sunggingkan adalah nikmat-Nya.

sering kita seenaknya bersikap dan berkata seolah Dia tak ada.

karna kita manusia itulah alasan pelarian.

terlampau sering kita menderma.

tapi Dia masih menatap. tidak berpaling menjauh seperti yang lain.

mencari manis di kala pahit, meludah pahit ketika manis.

terlampau sering khilaf terjadi, ya ?

Comments
(via staree)

(via staree)

73 notes

Comments

doa (satu)

kenyataan bahwa saya menginginkan apa yang mungkin tidak akan pernah saya dapatkan lebih menyakitkan dari sakit yang lain. saya tidak akan pernah bisa tertawa di atas penderitaan orang lain karena bahkan saya sendiri selalu mendapat sakit yang sama atau bahkan lebih. tolong jangan salahkan saya, karena sudah cukup sakit untuk melihat dia berdiri di depan kamu dan memalingkan muka dari saya. saya ingin jauh-jauh dari dia, sangat ingin. i just can’t let it. cukuplah kamu dapatkan dia, tapi tolong jangan jauhkan saya. cukuplah kamu punya pundak dan punggungnya, tapi tolong jangan buat dia benci saya.

saya tidak pernah memohon. tapi kali ini pengecualian.

Comments
i’m not a girl, the guy wanted to tells his feeling for all out of breath
june phigg-the hottie and the nottie
Comments
Comments
(via staree)

(via staree)

81 notes

Comments