Ada sebuah tempat dimana barcode besar dipasang di tiap kepala. Harga dicantumkan besar-besar untuk harga diri. Bukan pelacur saja yang menjual harga dirinya. Bahkan mungkin pelacur lebih baik daripada orang berkepala barcode ini. Seorang pelacur menjual harga dirinya untuk dirinya sendiri. Tapi orang-orang ini menjual harga diri dirinya dan klannya. Tak peduli apapun hanya besarnya dan banyaknya angka nol yang terpapar di secarik kertas kecil. Mereka bermain dengan angka, kertas dan wanita. Berkat barcode yang terpampang membuat mereka dapat kenikmatan surga di dunia. Surga hasil penjualan harga dirinya dan kehancuran dunianya dan dunia yang lain. Keesokan paginya ia kembali duduk. Terus duduk. Terus tidur akibat malam tadi lelah tertawa. Tertawa akan keberhasilannya memasang harga. Kembali lagi mereka duduk. Tak henti mereka duduk, tapi mereka tak dapat wasir, kadang, hanya darah tinggi, jantung, dan kolestrol penyakit-penyakitnya. Banyak orang menyebut mereka bajingan, atau apapun, tapi tidak mempengaruhi mereka, malah mereka semakin ingin menghancurkan semuanya. Peduli setan, katanya. Esoknya mereka kembali duduk, dan seringkali tertidur di kala poin dan inti pertunjukkan dimulai. Lalu esoknya, esoknya lagi mereka hanya tertidur. Namun kadang mereka senang membuat panggung semakin ramai akan aksi yang menantang urat dan mengeluarkan otot mereka yang lama tertidur. Perilaku mereka membuat yang lain kecewa, tapi mau tak mau yang lain harus memilih orang yang sama, karena tak ada yang lebih baik. Bajingan barcode dengan ide bajingan barunya atau bajingan lama dengan barcode mengikuti jaman dan idenya yang lama. Mau tak mau harus memilih, katanya. Demokrasi, pekiknya. Terkutuk, jerit yang lainnya.
Tak ada yang tahu pasti apa yang mereka lakukan selama diam di kursi besar berbantal tebal. Kursi ‘anti wasir’ yang mereka beli dengan mudah tanpa perlu memikirkan harga. Selalu ada uang, perut selalu besar, asal hidup, diam tak banyak ide idealis maka tak ada yang mereka lakukan. Tujuan hanyalah semangat awal. Satu minggu pertama. Tidak untuk minggu-minggu berikutnya. Mereka bicarakan hal berat tentang demokrasi, orasi, berbau-bau ayat dan pasal yang bahkan mereka juga tidak mengerti maknanya. Mereka khianati maknanya.
Terdengar sayup-sayup lagu yang mencerminkan betapa bangga kita bebas dari perbudakan selama berabad-abad. Tapi sayup itu hanya ilusi. Perbudakan terjadi untuk abad-abad selanjutnya. Perbudakan yang dianggap pantas, dan hebat. Mereka orang berkepala barcode tidak menuntut maju, hanya menuntut jumlah nol yang pantas. Berhipokrat, saling tuduh agar perut semakin besar. Bersarung tinju tak terlihat. Menyusun rencana di balik rencana. Saling meludah di belakang. Saling memutar harga, memasang taruhan, tak ubahnya bajingan jalanan. Tapi mereka adalah bajingan berdasi dan berpakaian perlente mahal hasil penjualan tak terlihat. Bukan bajingan jalanan yang lusuh, kumal, bau alkohol, tidak pintar menyembunyikan penampilan. Tapi lain dengan orang berkepala barcode ini. Mereka terlampau pintar. Hanya ular yang bisa menyaingi otak licinnya. Bukan demi yang lain, bukan demi harga diri, tapi demi hedonis. Semua terasa artifisial. Dan tidak penting lagi.
Tak ada lagi tiang kepercayaan. Runtuh dengan sendirinya. Sekarang dunia tinggal dipegang kebohongan akan wujud tiang yang diharapkan. Pondasi sulit terbentuk karena saling tuduh. Klan akan segera terhapus, mengulang peradaban, mengulang perbudakan. Hebatnya orang berkepala barcode.
Bandung,28 november 2009. 2 pm